Kue Lapis Surabaya: Lapisan Bolu dengan Selai di Tengah
Jika berbicara tentang kue klasik Indonesia yang tak lekang oleh waktu, banyak orang langsung teringat pada kue lapis khas dari Kota Pahlawan. Kue ini bukan sekadar sajian manis, melainkan juga bagian dari perjalanan panjang tradisi kuliner Nusantara. Sejak dahulu, ia selalu hadir dalam berbagai perayaan, mulai dari ulang tahun, hari raya, hingga acara keluarga yang hangat dan sederhana. Kue lapis surabaya sudah lama dikenal sebagai salah satu ikon kuliner manis dari Jawa Timur yang memiliki ciri khas tiga lapisan bolu dengan olesan selai di bagian tengahnya.
Secara historis, kue ini berkembang di Surabaya, sebuah kota pelabuhan yang sejak era kolonial menjadi titik pertemuan berbagai budaya. Pengaruh Belanda terlihat jelas pada teknik pembuatan bolu mentega yang digunakan. Namun, sentuhan lokal menjadikannya berbeda dari cake Eropa pada umumnya. Kombinasi bahan, teknik pemanggangan terpisah untuk tiap lapisan, serta penggunaan selai di bagian tengah menciptakan karakter rasa yang khas dan sulit ditiru.
Menariknya, meskipun tampilannya sederhana, proses pembuatannya justru menuntut ketelitian tinggi. Setiap lapisan harus matang sempurna agar teksturnya lembut dan tidak kering. Selain itu, ketebalan antar lapisan perlu dijaga agar terlihat seimbang saat dipotong. Dari sinilah nilai estetikanya muncul, yakni garis-garis rapi yang memperlihatkan kontras warna kuning keemasan dan cokelat.
Lebih dari sekadar kue, sajian ini menjadi simbol ketelatenan. Di balik setiap potongannya, ada proses panjang yang menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana sering kali menyimpan usaha luar biasa.
Ciri Khas Kue Lapis Surabaya: Lapisan Bolu dengan Selai di Tengah yang Autentik
Keunikan kue ini terletak pada tiga lapisan bolu yang dipanggang terpisah. Umumnya, dua lapisan berwarna kuning cerah berasal dari adonan berbasis telur dan mentega berkualitas tinggi. Sementara itu, satu lapisan tengah berwarna cokelat menggunakan tambahan bubuk kakao atau cokelat leleh.
Di antara lapisan tersebut terdapat olesan selai, biasanya selai stroberi atau nanas. Fungsi selai bukan hanya sebagai penambah rasa, tetapi juga sebagai perekat alami. Selain itu, selai memberikan sentuhan asam manis yang menyeimbangkan rasa gurih dari mentega dan manis dari gula.
Teksturnya padat namun lembut. Ketika digigit, terasa moist tanpa meninggalkan rasa berminyak berlebihan di mulut. Aroma telur dan mentega berpadu harmonis, menciptakan wangi khas yang langsung dikenali bahkan sebelum kue disentuh.
Secara visual, potongan kue ini menampilkan garis horizontal yang tegas. Justru dari tampilan inilah banyak orang menilai kualitasnya. Lapisan yang rata dan tidak bergelombang menunjukkan teknik pencampuran dan pemanggangan yang presisi.
Sejarah Perkembangan
Perjalanan kue ini tidak berhenti pada dapur rumahan. Seiring waktu, ia berkembang menjadi komoditas industri rumahan hingga skala besar. Banyak toko oleh-oleh di Surabaya menjadikannya produk andalan karena daya tahannya relatif lebih lama dibandingkan kue basah lainnya.
Pada era modern, variasinya semakin beragam. Ada yang menambahkan keju parut di atasnya, mengganti selai dengan buttercream tipis, bahkan memadukannya dengan rasa pandan. Meski begitu, versi klasik tetap menjadi favorit karena dianggap paling otentik.
Popularitasnya juga meningkat berkat media sosial. Potongan kue dengan garis rapi sering menjadi objek foto menarik. Selain itu, kemasan yang kini lebih elegan membuatnya cocok dijadikan buah tangan resmi.
Namun demikian, di tengah inovasi tersebut, resep dasar tetap dipertahankan. Rasio telur, gula, dan mentega masih menjadi kunci utama tekstur sempurna. Jika salah satu dikurangi secara signifikan, hasil akhirnya bisa berubah drastis.
Bahan Utama dan Teknik Dasar Pembuatan
Bahan dasar kue ini sebenarnya sederhana: telur, gula pasir, tepung terigu protein sedang, mentega, dan sedikit susu kental manis. Akan tetapi, kualitas bahan sangat menentukan rasa akhir.
Telur harus dalam kondisi segar agar adonan dapat mengembang maksimal saat dikocok. Mentega sebaiknya menggunakan mentega asli, bukan margarin sepenuhnya, karena perbedaan aroma akan terasa jelas. Sementara itu, tepung perlu diayak agar tidak menggumpal.
Proses pengocokan telur dan gula dilakukan hingga mengembang dan berwarna pucat. Setelah itu, campuran tepung dimasukkan perlahan agar struktur udara tidak rusak. Mentega cair yang sudah didinginkan kemudian dicampurkan secara hati-hati.
Adonan lalu dibagi menjadi beberapa bagian untuk menciptakan lapisan berbeda warna. Masing-masing dipanggang terpisah dalam loyang yang sama agar ukuran konsisten. Setelah matang dan dingin, lapisan disusun dengan olesan selai di antaranya.
Tahap akhir adalah proses penekanan ringan agar lapisan merekat sempurna. Biasanya, kue didiamkan beberapa jam sebelum dipotong agar struktur lebih stabil.
Kue Lapis Surabaya: Tips Memilih Kue Berkualitas
Bagi yang ingin membeli, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan. Pertama, lihat warna lapisan. Warna kuning harus cerah alami, bukan pucat atau terlalu gelap. Kedua, perhatikan aroma. Jika tercium wangi mentega yang lembut, itu pertanda bahan yang digunakan berkualitas.
Ketiga, tekstur permukaan harus halus dan tidak retak. Retakan bisa menandakan suhu oven kurang stabil. Selain itu, ketika ditekan ringan, kue seharusnya kembali ke bentuk semula tanpa meninggalkan bekas dalam.
Terakhir, perhatikan rasa selai. Selai yang baik tidak terlalu cair dan tidak mendominasi rasa bolu.
Daya Tahan dan Cara Penyimpanan
Salah satu keunggulan kue ini adalah daya tahannya yang cukup baik pada suhu ruang, sekitar tiga hingga empat hari dalam wadah tertutup rapat. Jika disimpan di lemari pendingin, masa simpannya bisa lebih lama, meski teksturnya akan sedikit mengeras.
Sebelum disajikan kembali, sebaiknya dibiarkan pada suhu ruang agar kelembutannya kembali optimal. Hindari menyimpan dalam wadah terbuka karena kue mudah menyerap aroma lain di sekitarnya.
Kue Lapis Surabaya: Peran dalam Industri Oleh-Oleh
Di Surabaya, kue ini menjadi salah satu produk unggulan toko oleh-oleh. Wisatawan yang berkunjung hampir selalu menjadikannya pilihan utama untuk dibawa pulang. Selain praktis, tampilannya juga menarik dan mudah dibagi.
Industri rumahan yang memproduksinya turut mendukung perekonomian lokal. Banyak usaha keluarga bertahan selama puluhan tahun hanya dengan mengandalkan resep turun-temurun.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan tradisi kuliner mampu bertahan di tengah persaingan modern. Selama kualitas dijaga, permintaan akan tetap ada.
Penutup
Kue khas Surabaya ini bukan sekadar bolu berlapis. Ia adalah perpaduan teknik, sejarah, dan cita rasa yang dirawat lintas generasi. Dari dapur sederhana hingga etalase toko modern, eksistensinya tetap kuat.
Melalui lapisan-lapisan rapi dan selai yang menyatukan, kue ini membuktikan bahwa kesederhanaan dapat menghadirkan keistimewaan. Dan selama orang masih menghargai rasa autentik, kue ini akan terus menjadi bagian dari cerita manis Indonesia.

